Hubungi kami

Puluhan Tahun Berpindah-pindah, Akhirnya Jemaat POUK Tesalonika Ibadah di Tempat Sendiri

2026-04-03 HaiPress

TANGERANG, iDoPress - Setelah puluhan tahun berpindah-pindah tempat ibadah, jemaat Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) Tesalonika, Teluknaga, Kabupaten Tangerang, akhirnya bisa merayakan Jumat Agung di lokasi yang mereka perjuangkan sendiri.

Meskipun status gedung tersebut masih dalam proses pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), jemaat bersyukur bisa menjalankan ibadah Jumat Agung dengan hikmat.

Salah satunya adalah Jojor Pasaribu (66).

Bagi dia, beribadah di gedung sendiri setelah berpuluh-puluh tahun harus berpindah tempat, menjadi sesuatu yang sangat melegakan untuknya.

Bukan karena hanya sekadar ibadah, melainkan jawaban atas penantian panjang yang tak selalu mudah.

Tidak ada lagi rasa tergesa atau kekhawatiran harus berpindah tempat seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Kita senang dan bersukacita lah ya dengan diadakannya ibadah Jumat Agung di tempat ini. Harapannya ke depan kita tetap beribadah di tempat ini karena kita sudah berusaha berjuang gitu untuk membangun ini," ujar Jojor saat ditemui iDoPress di lokasi, Jumat (3/4/2026).

Bagi dia, momen tersebut menjadi sangat berarti karena jemaat selama ini harus berpindah-pindah tempat untuk beribadah.

Bahkan, kata Jojor, sejak tahun 1990-an, mereka belum memiliki lokasi tetap.

Para jemaat harus berpindah-pindah untuk melangsungkan ibadahnya.

Pada 1990-an, mereka sempat melaksanakan ibadah di ruko dengan biaya sewa Rp 35 juta per tahun.

Karena keterbatasan biaya, akhirnya kontrak tidak dilanjutkan dan berpindah ke rumah salah satu jemaat di Perumahan Mutiara Garuda, Blok A pada 2007.

Namun, mereka mendapatkan penolakan dari warga dan mereka terpaksa pindah ke kawasan bandara, tepatnya bekas gedung gereja Garuda, selama bertahun-tahun, yakni sejak 2008-2023.

Namun, jarak yang jauh membuat mereka harus menyewa angkutan agar bisa mengikuti ibadah. Hal itu yang membuat mereka kewalahan karena lokasinya yang jauh dari Teluknaga.

“Dulu kita ibadahnya di bandara. Jauh, harus nyewa angkot ke sana,” cerita dia.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Pendidikan Huaxin    Hubungi kami SiteMap