2026-04-20 HaiPress


JAKARTA, iDoPress – Di kota besar seperti Jakarta, ritme hidup bergerak cepat dan tuntutan ekonomi tak memberi banyak ruang untuk bernapas.
Banyak orangtua akhirnya harus bekerja penuh waktu demi menjaga stabilitas keluarga. Namun di balik keputusan itu, muncul dilema yang terus menghantui, siapa yang menjaga anak saat kedua orangtua harus berada di luar rumah.
Bagi sebagian keluarga, daycare menjadi jawaban paling realistis. Tempat penitipan anak bukan lagi sekadar opsi tambahan, melainkan penyelamat yang membuat orangtua tetap bisa bekerja.
Meski begitu, keputusan menitipkan anak sering diiringi rasa bersalah, kekhawatiran, dan ketakutan dianggap tidak hadir dalam tumbuh kembang anak.
Dilema inilah yang dirasakan Melani (33) dan suaminya, Yozar (35), pasangan pekerja asal Depok yang setiap hari harus bolak-balik ke Jakarta.
Anak mereka yang berusia tiga tahun kini dititipkan di daycare karena tidak ada keluarga dekat yang bisa membantu.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah anak bermain di area daycare Trust DayCare, Jakarta Barat, dengan pengawasan pengasuh di ruang bermain beralaskan matras warna-warni, Senin (20/4/2026).
Bagi Melani, keputusan menitipkan anak ke daycare adalah keputusan besar yang sempat ia tolak sejak awal.
Dalam bayangannya, anak kecil seharusnya dekat dengan ibu, bukan bersama pengasuh di luar rumah.
“Awalnya saya menolak. Dalam kepala saya, anak itu harus sama ibunya. Saya dulu berpikir, kalau anak dititipkan daycare, berarti ibunya nggak ngurus,” kata Melani saat dihubungi iDoPress, Sabtu (18/4/2026).
Namun, realitas hidup keluarga muda di perkotaan membuat idealisme itu sulit dipertahankan. Melani mengaku tetap bekerja karena kebutuhan ekonomi.
Jika ia berhenti, keluarga masih bisa bertahan dari gaji suaminya, tetapi dalam kondisi yang sangat terbatas.
“Kalau saya resign, kita masih bisa hidup dari gaji suami, tapi akan berat banget. Tidak ada tabungan, tidak ada dana darurat. Kalau anak sakit, langsung kelimpungan,” ujar dia.
Akhirnya, daycare menjadi pilihan yang tak terhindarkan. Bukan karena ingin, melainkan karena kebutuhan.
“Saya sadar daycare itu bukan soal mau atau enggak. Tapi soal bertahan,” kata Melani.
Keputusan itu bukan tanpa ketakutan. Melani mengaku sempat dihantui ketakutan anak akan mengalami kekerasan atau pengasuhan yang buruk.
“Takut banget. Saya sampai overthinking. Takut anak dicubit, anak dibentak, anak nggak dikasih makan,” ujar Melani.
Hari pertama menitipkan anak menjadi pengalaman emosional yang membekas. Anak mereka menangis keras saat ditinggal, sementara Melani sendiri tak kuasa menahan air mata.
Ia tetap pergi bekerja, tetapi pikirannya tertinggal di daycare.
“Badan ada di kantor, tapi pikiran saya di daycare,” ujar Melani.
Agar lebih yakin, Melani dan Yozar melakukan survei ke beberapa tempat sebelum menentukan pilihan.
Mereka memeriksa kebersihan ruangan, keamanan mainan, kenyamanan ruang tidur, hingga menanyakan rasio pengasuh dengan jumlah anak.
Melani juga menanyakan ketersediaan CCTV dan prosedur penanganan ketika anak sakit. Bahkan ia memastikan pengasuh memiliki pelatihan pertolongan pertama.
“Saya juga lihat cara pengasuh ngomong ke anak-anak. Kalau pengasuhnya ngomongnya keras, saya langsung mundur,” kata Melani.
Setelah beberapa waktu, anak mereka mulai beradaptasi. Tangis dan penolakan perlahan berubah menjadi kebiasaan baru. Anak mulai punya teman dan menikmati aktivitas di daycare.
Namun, meski anak terlihat baik-baik saja, rasa bersalah tidak serta-merta hilang.
“Rasa bersalah karena saya merasa waktu anak saya lebih banyak sama orang lain dibanding sama saya,” kata Melani.