Hubungi kami

Radio dan Rindu yang Tak Tergantikan

2026-06-06 HaiPress

JAKARTA, iDoPress – Di tengah dominasi layanan streaming musik dan media sosial yang menawarkan akses instan ke jutaan lagu, tradisi mengirim salam dan me-request lagu melalui radio ternyata belum hilang.

Kebiasaan yang populer sejak era 1990-an itu masih bertahan hingga sekarang, meski cara penyampaiannya berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Jika dahulu pendengar menelepon studio atau mengirim SMS, kini pesan lebih banyak disampaikan melalui WhatsApp, media sosial, hingga platform streaming radio.

Namun esensinya tetap sama: menyampaikan perhatian, rasa rindu, ucapan terima kasih, atau sekadar menyapa orang terdekat melalui udara.

Rahmi (27), karyawan agency di Jakarta Selatan, termasuk pendengar yang masih rutin mengikuti program request lagu dan salam di radio.

Kebiasaan itu bermula ketika ia harus menghadapi perjalanan panjang menuju kantor setiap pagi.

Menurut Rahmi, layanan kirim salam menjadi salah satu alasan mengapa radio tetap memiliki tempat di tengah maraknya aplikasi musik digital.

"Kalau lagu sekarang gampang, tinggal buka aplikasi musik. Tapi kalau radio ada rasa personalnya. Kita bisa kirim salam, lalu penyiar membacakan nama kita. Rasanya berbeda," ujar Rahmi saat dihubungi iDoPress, Rabu (3/6/2026).

Sekitar dua bulan lalu, Rahmi mengirimkan request lagu Yovie & Nuno untuk sahabatnya yang berulang tahun.

Dalam pesan tersebut, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman yang telah menemaninya sejak masa kuliah hingga sama-sama bekerja di Jakarta.

Pesan itu dibacakan penyiar dalam program pagi. Tak lama kemudian, sahabatnya langsung menghubunginya karena terkejut mendengar namanya disebut di radio.

"Menurut saya momen seperti itu tidak bisa digantikan media sosial," kata dia.

Meski aktif menggunakan Instagram dan WhatsApp setiap hari, Rahmi menilai radio menawarkan suasana yang lebih hangat.

Ia juga mengaku senang mendengarkan pesan-pesan sederhana dari pendengar lain yang disiarkan di udara.

Menurut dia, salam untuk orangtua, pasangan, atau teman kerja sering kali terdengar sederhana, tetapi justru terasa tulus ketika dibacakan penyiar.

Pengalaman serupa dirasakan Shabi (30), seorang pengusaha di Jaksel yang kerap mendengarkan radio saat melakukan perjalanan antarkota untuk urusan usaha.

Berbeda dengan sebagian orang yang mengandalkan playlist pribadi, Shabi justru menikmati proses menunggu lagu pilihannya diputar.

"Saya hampir setiap minggu kirim request lagu. Biasanya lagu-lagu lawas Indonesia tahun 1990-an atau awal 2000-an," ujar dia saat dihubungi.

Menurut Shabi, keseruan request lagu bukan hanya terletak pada musik yang diputar, melainkan pada proses menunggu dan kemungkinan pesan dibacakan oleh penyiar.

Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi ketika istrinya sedang mengandung anak pertama. Saat itu ia sedang berada di luar kota dan tidak bisa banyak berkomunikasi.

Ia kemudian mengirim pesan berisi doa dan semangat untuk sang istri serta meminta diputarkan lagu religi.

"Istri saya bilang terharu karena tidak menyangka saya mengirim pesan lewat radio," kata Shabi.

Bagi dia, radio menghadirkan ruang yang lebih santai dibanding media sosial yang serba cepat.

Ia juga mengaku kerap ikut terbawa suasana ketika mendengarkan cerita pendengar lain yang menyampaikan salam untuk keluarga atau orang tercinta.

Dari Browser hingga Mobil, Radio Tetap Menemani

Kedekatan emosional yang dihadirkan radio juga dirasakan Ketty (30), karyawan swasta yang rutin mendengarkan radio melalui situs web streaming saat bekerja.

Karena sebagian besar waktunya dihabiskan di depan komputer, Ketty biasanya membuka tab khusus radio streaming untuk menemani aktivitas sehari-hari.

Ia mulai menjadi pendengar radio streaming sekitar tiga tahun lalu setelah mendapat rekomendasi dari rekan kerja.

Awalnya ia tertarik karena banyak program yang memutar lagu-lagu nostalgia era 1990-an hingga awal 2000-an.

Namun seiring waktu, bukan hanya musik yang membuatnya bertahan.

"Saya suka ketika penyiar membacakan cerita pendengar. Kadang ada yang mengirim pesan untuk orang tua, ada yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, ada juga yang sekadar mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya," ujar Ketty.

Ia pernah mengirimkan salam untuk kakaknya yang sedang mengalami masa sulit setelah kehilangan pekerjaan.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Pendidikan Huaxin    Hubungi kami SiteMap